Dialek Gresik
Juli 19, 2008 at 2:56 pm | In 1 | 8 CommentsDari caranya bicara dengan menggunakan istilah kata dan dialek bahasanya, saya bisa menduga kalau orang ini wong gresik, atau paling tidak pernah tinggal di Gresik sehingga terpengaruh dialek bicara masyarakat di lingkungan sekitarnya.
Untuk daerah tertentu, Gresik utara misalnya, maka istilah kata dalam bahasa sehari-hari sangat kentara. seperti menyebut “Saya” dengan kata “Eson“. Intonasi nada dalam berbicara juga menambah ciri khas wong gresik, walaupun tidak sekuat dialek bahasa Madura. Namun di beberapa wilayah Gresik lainnya, dialek bahasanya tidak begitu beda dengan bahasa Suroboyoan, terutama di Gresik selatan sampai ke Gresik kota.
Lha sampeyan bisa ndak, boso gresikan…? ![]()
Tambak Gresik Terluas Di Jawa
Juli 10, 2008 at 9:31 am | In gresik, nggersik-an | 20 CommentsDari hasil penelitian tahun 1863, kala itu Grissee (nama Gresik tempo dulu) memiliki tambak seluas 15.399 bau dan Sidayu-sekarang masuk wilayah Gresik-memiliki tambak seluas 1.972 bau. Artinya total luas pertambakan di Gresik seluas 17.371 bau.
Di Pulau Jawa terdapat tambak seluas 46.068 bau. Dari jumlah itu 35.211 bau berada di Karesidenan Surabaya (Surabaya, Sidoarjo dan Lamongan, termasuk Grisse dan Sidayu). Sedangkan beberapa lainnya berada di Karesidenan Jepara (2.332. bau), Pasuruan (3.804 bau), Probolinggo (1.475 bau), Besuki (736 bau), Rembang (1.321 bau) dan Semarang (1.189 bau).
Areal pertambakan di Grissee berada di sepanjang pantai, dengan lebar dari pantai ke daratan mencapai 3 sampai 6 paal (1 paal sama dengan 1.506 meter). Deretan tambak yang paling panjang terdapat di Grissee dan Sidayu. Tambak di wilayah ini sambung-menyambung menjadi satu, hanya beberapa saja yang terputus oleh batu karang atau gundukan pasir yang terlalu tinggi bagi air laut untuk dapat mengairinya.
Pembuatan tambak di Gresik tidak hanya berada di tepi pantai, tetapi juga berada di tepi sungai dekat muara, misalnya di tepi Sungai Lamong (Tangi), Sungai Ngawen, dan Bengawan Solo.
Sudah seminggu ini, setiap pagi saya melewati Jalan Raya Tambak Beras yang membelah areal pertambakan menghubungkan Cerme ke Gresik kota dan Lamongan. Kanan kiri jalan sejauh mata memandang hanya hamparan tambak. Dan sekarang banyak rumah dan beberapa bangunan baru berdiri sebagai tempat bisnis.
Hati-hati kalau lewat jalan ini, jangan ngantuk ya, bahaya. Bisa nyemplung tambak lho…
sumber: Grissee Tempoe Doeloe
Yes, I do…
Juni 26, 2008 at 10:00 am | In gresik, nggersik-an | 22 CommentsSaat itu beliau masih belum mendapat sebutan Sunan Giri atau Prabu Satmoto. Beliau masih seorang raden Paku atau Raden Ainul Yaqin yang belum mendapat predikat terlalu istimewa. Namun pernikahannya cukup istimewa. Dan tidak lazim dilakukan secara umum. Itulah yang dikatakan keluar-biasaan, sebab dalam sehari beliau menikah dengan dua wanita. Dalam catatan sejarah yang sahih hanya dua wanita itulah istri-istri Sunan Giri, demikian yang pernah dikemukakan oleh Kiai Zuhri Giri almarhum.
Kisah pernikahan itu terjadi pada hari Jumat, diperkirakan sekitar tahun 1389 Saka / 1467 M, dilaksanakan di masjid Sunan Ampel. Pagi hari Sunan Giri diakadnikahkan oleh Sunan Ampel dengan Dewi Murtasiyah binti Rahmatullah. Dan sore setelah sholat Jumat diakadnikahkan dengan Dewi Wardah binti Ki Ageng Bungkul. Pernikahan itu berlangsung khidmat tanpa ada gunjingan berarti. Itulah keluarbiasaan yang sulit ditiru. Dan hal itu diyakini sebagian masyarakat sebagai kekeramatan Sunan Giri.
Untuk saya yang tidak memiliki keluar-biasaan dan kekeramatan, satu saja sudah amat sangat cukup sekali, insya allah.
Mohon doanya ya… ![]()
Tradisi Nyekar
Juni 18, 2008 at 3:42 pm | In gresik, nggersik-an | 29 CommentsTerbangun lagi di tengah malam, kali ini karena mimpi bertemu almarhum bapak, tidak begitu ingat apa yang kami perbincangkan, hanya senyum beliau yang jelas terbayang.
Sudah lama tidak ke makam beliau, bahkan tradisi nyekar (ziarah) sambil membersihkan rumput-rumput liar di pusaranya menjelang lebaran kemarin tidak juga saya ikut, karena sudah diwakilkan kepada saudara sepupu yang lain. Duh, kebangeten tenan anakmu iki…
Padahal banyak orang yang tidak hanya ziarah ke makam keluarga atau nenek moyangnya. Mereka juga ziarah ke makam-makam keramat agar bisa membawa berkah pada hari tertentu, misal malam jum’at legi, malam jum’at kliwon dan hari-hari keramat lainnya. Tidak lupa sebungkus bunga ditaburkan di atas makam dan membakar kemenyan hingga harumnya menyengat, katanya sebagai persembahan bagi arwah.
Menurut saya pribadi, ternyata suasana kuburan yang sepi dan cenderung angker, sangat membantu sesorang semakin khusyuk dalam ritual doanya. Dan memudahkan konsentrasi sesorang dalam memperdalam ilmu-ilmu spiritual lainnya.
Ah, Bapak, maafkan anakmu yang nggak pernah taburkan bunga-bunga di pusaramu. Hanya sehabis sholat sesekali kupanjatkan doa untukmu. I miss u daddy…
Voor 1/2…
Juni 10, 2008 at 5:33 am | In catatan | 23 CommentsDini hari terjaga dari tidur, entah karena mimpi atau menyelesaikan urusan “arus bawah” ke kamar kecil, he2. Ketika tidur kembali, kadang susahnya minta ampun. Untungnya sekarang ada liga sepak bola Euro 2008, lumayan bisa menemani saya hingga tertidur kembali, atau bahkan hingga pertandingan usai.
Tip’s dari teman-tema penggila bola, supaya tetap melek waktu mengikuti pertandingan, pasang taruhan meski kecil-kecilan. Buat saya kalau yang bertanding bukan tim-tim favorit, biasanya sudah keburu ngantuk, apalagi kalau permainannya membosankan.
BTW, saya habis lihat Belanda melibas tim unggulan Italia 3 gol tanpa balas. Kayaknya tim asuhan Marco Van Basten favorit juara nih…
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.
